Bulan pernah terbelah?

August 3rd, 2007 by yuhu

Benarkah peristiwa menakjubkan 14 abad yabg lalu saat Rasulullah dengan izin Allah membelah bulan?. Apapun yang datang dari Allah dan Rasulnya masuk akal atau tidak maka tiada pilihan untuk menolaknya. Karena sebuah penolakan adalah sbuah jawaban sedekat apa Iman kita pada kebenaran itu?. Untaian Risalah berikut smoga bisa menambah keyakinan kita akan sebuah kebenaran,… kebenaran yang mutlak dari-Nya. Allah berfirman: "Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)" Apakah kalian akan membenarkan kisah yang dari ayat Al-Qur’an ini menyebabkan masuk Islamnya pimpinan Hizb Islami Inggris ??Di bawah ini adalah kisahnya: Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ? Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut: Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur’an. Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, "Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi [Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah] mengandung mukjizat secara ilmiah ? Maka saya menjawabnya: Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjagkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta’alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu. Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, "Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?" Rasulullah bertanya, "Apa yang kalian inginkan ? Mereka menjawab: Coba belah bulan, .." Maka Rasulullah pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Maka Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulat itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, "Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!" Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja "menyihir" orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Maka mereka pun pada menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Maka orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, "Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?"Mereka menjawab, "Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dansaling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali…!!!" Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya: Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, "Ini adalah sihir yang terus-menerus", dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap ….sampai akhir surat Al-Qamar. Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, "Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan??" Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: Dipersilahkan dengan senang hati." Daud Musa Pitkhok berkata, "Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah… Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu??? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasam hamba-Nya dalam pencarian kebenaran. Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi diantara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besardalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan. Presenter pun berkata, " Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna". Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, "Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia. Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget danberkata, "Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?" Mereka pun menjawab, "Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun. Maka presenter itu pun bertanya, "Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya. Mereka menjawab, "Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!! Presenter pun bertanya, "Bagaimana kalian bisa yakin akanhal itu?" Mereka menjawab, "Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, "Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali". Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, "Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, "Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!! Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah … Maka aku pun berguman, "Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur’an dan aku baca surat Al-Qamar, dan … saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam. Diterjemahkan oleh: Abu Muhammad ibn Shadiq www.dudung.net

Orang-orang Terkaya Indonesia dan Masa Depan Kita

July 21st, 2007 by yuhu

Siapa saja sih orang-orang terkaya di negeri ini? Dari angkatan lama ada Sukanto Tanoto, Putera Sampoerna, Eka Tjipta Widjaja, Rachman Halim, Robert Budi Hartono, dan Liem Sioe Liong yang selalu jadi langganan Forbes. Ada juga pengusaha lokal seperti Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro dan yang baru seperti Eddie William Katuari, Trihatma Haliman, atau Chairul Tanjung.

Ada juga beberapa junior seperti Sandiaga Salahuddin Uno dan Patrick S Walujo yang kelak berpotensi menjadi yang terkaya di Indonesia. Sandi adalah Ketua HIPMI dan mantan credit officer Bank Summa. Tahun 1998 Sandi dan Edwin Soeryadjaya mendirikan Saratoga Capital. Mereka mengantongi US$ 1 miliar dan investasinya masuk kemana-mana. Sandi kini juga mengejar proyek Tol Cikampek-Palimanan dan tambang emas Newmont di NTB.

Sedangkan Patrick adalah mantan bankir Goldman Sachs yang kini nahkoda Northstar Pacific. Walau baru 3 tahun, ia sudah mengantongi Alfa Retailindo dan Alfa Mart yang dulu di bawah Sampoerna. Northstar juga memiliki perusahaan LNG dan ladang migas di Sumatera Selatan. Dana yang dikelolanya sekitar US$ 100 juta dan sebagian dari Texas Pacific Group. Mereka juga sedang memburu Garuda Indonesia dan Blok Cepu.

Ada pula Rosan P Roeslani, yang bersama Sandi membangun Recapital Advisors; dan Tom Lembong, yang mengakuisisi BCA lewat Farindo. Recapital mengantongi Bank BTPN dan memenangi tender Dipasena, tambak udang terbesar Asia Tenggara. Sedangkan Tom adalah jebolan Morgan Stanley dan mantan Kadiv Asset Management Investment BPPN yang kini mendirikan Principia (Quvat). Quvat punya US$ 150 juta dan memegang Adaro serta Blitz Megaplex Cinema. Dalam pembelian Adaro; Sandi, Patrick, dan Tom tergabung dalam konsorsium dibantu Edwin dan Teddy; plus Erick Tohir, pemilik Grup Mahaka.

Mahaka sendiri pemegang sahamnya adalah M Lutfi, bekas ketua HIPMI yang jadi Kepala BKPM. Lutfi adalah putra Gunadarma yang sebelumnya adalah menantu Hartarto (Menperin Orde Baru). Bekas istrinya punya sekolah desain, ESMOD, dan istri Lutfi kini adalah Bianca Adinegoro. Ada juga Erick Tohir dan Boy Garibaldi Tohir. Erick sedang menggenjot JakTV bersama Artha Graha Group, sambil memosisikan Republika di 3 besar. Sedang Boy Garibaldi adalah salah satu direktur Adaro. Erick pernah mengatakan bahwa Lutfi dan Wisnu Wardhana tak aktif di Mahaka. Barangkali Wisnu sekarang sibuk mengurus perusahan sekuritas dan pembangunan apartemen di depan BEJ.

Nama lain yang cukup berkibar adalah Hary Tanoesoedibjo dari Bhakti Asset Management dan Global Mediacom. Bhakti pernah sukses membeli Salim Oleochemical dari BPPN. Hary Tanoe pernah mendirikan Indonesia Recovery Company Limited bersama Asia Debt Management. Ia juga dikenal dekat dengan George Soros dan sering dititipi dana investasi para konglomerat papan atas, termasuk Salim. Belakangan Harry dikenal sebagai raja media dengan bendera MNC.

Ada juga rising star grup Axton yang baru memulai bisnis. Pemiliknya konon anak muda berusia 25 tahun yang merangkak dari nol. Mereka mengelola dana investor dengan menerapkan value investing ala Warren Buffett. Sayang saya kurang informasi mengenai mereka. Ada yang bisa menambahkan? Yang jelas, mereka semua adalah anak-anak muda brilian, berlimpah harta, lulusan luar negeri, punya pengalaman segudang, dan closely-related each other.
Bagaimana Mereka Membangun Kekayaan

Keberadaan orang-orang terkaya di sebuah negara penting untuk menggerakkan ekonomi secara agregat dan memberi efek multiplier. Mereka juga bisa menghitamputihkan bangsa, dan bahkan, sampai jadi bahan gosip tak berkesudahan. Mereka jualah yang sebenarnya menggambar cerita masa depan bangsa.

Di Amerika, banyak pengusaha kecil yang kemudian jadi besar. Tengok Google. Mereka punya kapitalisasi di atas Coca Cola (US$ 137 milyar) dan hanya sedikit di bawah Intel. Jaringan ritel Wal-Mart yang dimulai Sam Walton dari nol, kini kapitalisasi pasarnya hampir US$ 200 milyar. Dan yang fenomenal tentu Microsoft dengan kapitalisasi hampir US$ 300 milyar. Kalau tahun 1991 lalu saham MSFT dihargai cuma US$ 5, kini sudah lebih dari US$ 80 per lembar. Angka ini cuma bisa dilampaui Exxon Mobil yang memang sudah mapan lebih dari seabad dengan kapitalisasi US$ 473 milyar.

Iklim investasi di Amerika memang sudah terbangun sedemikian rupa dan tersedia berbagai insentif bagi (calon) wirausahawan yang bermaksud membangun bisnis baru. Berbagai peraturan dan rule of the game juga jelas ditegakkan dan menjamin kelangsungan usaha mereka. Dan memang bisa dikatakan bahwa cukup banyak orang-orang terkaya di Amerika yang memulai usahanya dari nol karena memang dikondisikan demikian. Berbeda 180 derajat dengan di Indonesia.

Di Indonesia, orang-orang terkaya cenderung (maaf) masih rent seeking dan kurang kreatif. Calon orang-orang terkaya masa depan itu berangkat bukan dari bawah. Mereka jago finance, punya linkage dengan funding body di luar negeri — namun tak punya fondasi industri yang kokoh. Mereka “cuma” pinjam uang ke luar, membeli perusahaan yang dihajar krisis moneter 1997, lalu tinggal menuai panen. Mereka membentuk semacam private equity atau hedge fund untuk memenuhi kebutuhan pendanaan. BPPN atau PPA-lah yang jadi mak comblang tender jual-beli ini.

Namun naluri su’udzon saya bilang bahwa mereka juga berinvestasi di politik. Misalnya, ingat kasus BLBI. Seperti kita tahu, tender biasa dilakukan di Gedung Bidakara, milik BI. Kita juga tahu bahwa petinggi BPPN kebanyakan merupakan keluarga BI. Lucunya, ada salah satu parpol yang juga dekat dengan BPPN dan sering mengadakan hajatan di Gedung Bidakara. Partai tersebut juga mencak-mencak ketika namanya disangkutkan dengan kasus DKP dan mengancam siapapun yang mengungkit dana DKP dengan alasan character assasination. Kalau tidak salah, partai tersebut juga yang meloloskan Anwar Nasution sebagai ketua BPK. Anwar adalah mantan Deputi Gubernur BI dan BPK adalah lembaga superior satu-satunya yang bisa “mengaudit” kinerja BPPN dan BI.

Nah, pertanyaan su’udzon saya, apakah perusahaan-perusahaan murah tersebut memang dijual kepada bidder terbaik dengan harga tertinggi; atau orang-orang terkaya masa depan Indonesia tersebut mendapatkannya lewat cara lain? Silakan simpulkan sendiri.

Membaca Nasib

July 14th, 2007 by yuhu

Ini kisah tentang seorang petani tua yang bekerja di ladangnya. Suatu hari kudanya melarikan diri. Mendengar ini, tetangga si petani tua datang mengunjunginya, dan dengan penuh simpati berkata, "Oh, petani tua. Sungguh malang nasibmu."
Sang petani pun menjawab, "Mungkin saja."
Keesokan harinya, kuda itu kembali, bersama tiga kuda liar lainnya. "Sungguh menakjubkan. Betapa beruntungnya nasibmu," seru tetangganya.
Sang petani menjawab, "Mungkin saja."
Hari berikutnya, anak si petani tua mencoba menaiki salah satu kuda yang masih liar itu. Sang anak terlempar dari punggung kuda yang belum jinak itu. Kakinya patah. Mendengar ini, tetangganya datang mengunjunginya untuk memberi simpati atas kemalangannya,
"Oh, petani tua. Betapa malang nasibmu."
Lagi-lagi sang petani menjawab, "Mungkin saja."
Keesokan harinya, seorang pejabat militer datang ke desa dan menyerukan kewajiban bagi setiap pemuda untuk berperang membela negara. Mengetahui bahwa kaki anak laki-lakinya patah, pejabat militer itu pun melewatinya. Para tetangga pun memberi selamat kepada si petani tua atas keberuntungan nasibnya.
Sang petani tua pun menjawab, "Mungkin saja."
Cerita yang menggugah bukan? Nasib baik dan buruk sebenarnya tergantung dari cara kita memandangnya. Sepanjang kita bersyukur, tidak pernah ada yang buruk yang datang dari-Nya. "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Quran [2]:216).

Ayah….

January 6th, 2007 by yuhu

Terkadang aku teringat akan sosok dirimu
Teringat ketika di masa kecil engkau selalu menyayangiku
Teringat ketika engkau memarahkanku
Aku tidak boleh larut dalam kesedihan
Aku hanya bisa berdoa semoga engkau bahagia di alam sana
Insya Allah kita sekeluarga akan ketemu di Alam yang indah nan abadi
Amin Ya rabbal Alamin

Dimanakah Pilihan Kita

December 25th, 2006 by yuhu

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya. Dia bertanya mengapa hidup ini terasa begitu sukar dan menyakitkan. Dia tidak tahu bagaimana untuk menghadapinya. Dia nyaris menyerah kalah dalam kehidupan. Setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya yang bekerja sebagai tukang masak membawa anaknya itu ke dapur. Dia mengisi tiga buah panci dengan air dan mendidihkannya di atas kompor. Setelah air di dalam ketiga panci tersebut mendidih, dia memasukkan lobak merah ke dalam panci pertama, telur dalam panci kedua, dan serbuk kopi dalam panci terakhir.

Dia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak tertanya-tanya dan menunggu dengan tidak sabar sambil memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh ayahnya. Setelah 20 menit, si ayah mematikan api.

Dia menyisihkan lobak dan meletakannya dalam mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya dalam mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lain.

Lalu dia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, Nak?”

“Lobak, telur dan kopi”, jawab si anak.

Ayahnya meminta anaknya memakan lobak itu. Dia melakukannya dan mengakui bahwa lobak itu nikmat. Ayahnya meminta dia mengambil telur itu dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, dia dapati sebiji telur rebus yang matang. Terakhir, ayahnya meminta untuk minum kopi. Dia tersenyum ketika meminum kopi dengan keharuman aroma. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, ayah?”

Si ayah, sambil tersenyum menerangkan bahawa ketiga bahan itu telah menghadapi kesulitan yang sama, direbus dalam air dengan api yang panas tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Lobak sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, lobak menjadi lembut dan mudah dimakan. Telur mudah pecah dengan isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Serbuk kopi pula mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, serbuk kopi mengubah warna dan rasa air tersebut.

“Kamu termasuk golongan yang mana? Air panas yang mendidih itu umpama kesukaran dan dugaan yang bakal kamu lalui. Ketika kesukaran dan kesulitan itu mendatangimu, bagaimana harus kau menghadapinya ?
Apakah kamu seperti lobak, telur atau kopi?” tanya ayahnya.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita adalah lobak yang kelihatan keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kita menyerah menjadi lembut dan kehilangan kekuatan. Atau, apakah kita adalah telur yang pada awalnya memiliki hati lembut, dengan jiwa yang dinamis? Namun setelah adanya kematian, patah hati, perpisahan atau apa saja cobaan dalam kehidupan akhirnya kita menjadi menjadi keras dan kaku.

Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kita menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku? Atau adakah kita serbuk kopi? Yang mampu mengubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, menjadi sarana mengubah dirinya mencapai kualitas yang lebih tinggi lagi. Jika kita seperti serbuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk atau memuncak, kita akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan disekitar kita juga menjadi semakin baik.

Antara lobak, telur dan kopi, engkau yang mana?

Ketika Aku membaca sebuah Buku

March 19th, 2006 by yuhu

Buku tentang rumus sukses itu menarik hatiku. Terutama karena ia dibuka dengan pengantar betapa mengesankan cara-caranya memberi tips kesuksesan itu nanti. Betapa berbeda buku yang ditulisnya ini dari ribuan buku tentang sukses yang telah ada, aneka buku yang disebutnya sebagai dangkal dan mengerikan. Penuh mantera-mantera ajaib tentang suskes, bahwa seolah-olah meraih suskes itu semudah menekan tombol lampu.

Sungguh berbeda dari buku yang ditulisnya itu. Buku yang ia sebut sebagai ketulusan, berisi pengalaman nyata dan amat praktis dalam mengubah hidup pembacanya. Buku yang dijamin akan membuat nasib seseorang berubah jika benar-benar dituruti seluruh instruksinya. Dan akhirnya sebuah buku yang dibuat bersambung cuma untuk bisa membaca jurus terakhirnya. Buku yang juga berujung pada tawaran, bahwa akan lebih suskes jika sehabis membaca buku itu, silakan datang ke seminarnya dan harus membayar pula… hahaha!

Saya tertarik pada buku ini karena inilah buku ke sekian yang saya baca, tentang betapa sulitnya mencegah diri sendiri untuk tidak meninggi-ninggikan diri sambil merendah-rendahkan sesama. Kenapa untuk menunjukkan resep sukses bikinan sendiri itu, kurang lengkap rasanya jika tidak sambil meremehkan resep yang lainnya.

Kehebatan kita ini rasanya tidak sempurna jika tidak kita banding-bandingkan dengan kekurangan orang lain. Betapa dekat kita dengan gaya seperti ini; ”Zaman saya dulu…” Lalu selebihnya, betapa zaman itu, kedisiplinan hidupnya begitu tinggi. Tidak seperti generasi sekarang yang sekali bentak lalu putus asa dan mati. ”Tidak seperti cara saya dulu…” Cara yang menurut kita sulit lagi ditiru karena membutuhkan ketekunan yang teruji. ”Hanya orang yang benar-benar kuat yang akan lulus dari ujian itu,” kata kita.

Sungguh, kekurangan pihak lain memang lauk-pauk yang lezat bagi kemegahan diri sendiri. Tanpa kekurangan pihak lain itu disertakan, kehebatan diri sendiri tidak akan cukup memuaskan. Maka kepada kita yang tengah hebat, tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa beginilah latihanku, beginilah prosesku, dan jalan inilah yang aku tempuh. Di belakang pernyataan itu biasanya masih harus kita sertakan; sungguh berbeda dari jalan yang ditempuh generasimu. Di zamanmu semuanya serba enak. Menang dapet bonus, tempat latihan memadahi, semua pihak mendukung!

Di zamanku? Wuaaaah… boro-boro bonus, ditepuk punggungnya sebagai tanda terimakasih pun sudah luar biasa. Senangnya setengah mati. Jadi zamanku dulu, jauh dari mata duitan. Jauh dari keinginan macam-macam kecuali hanya hendak mengharumkan nama bangsa dan negara. Beda kan dengan zaman sekarang! Jangankan pindah klub, pindah negara pun bisa kalian lakukan jika bayarannya menggiurkan. Sangat… sangat berbeda dari zamanku dulu… Ya, kita sering membangun kemegahan, dengan kelemahan sesama sebagai pondasinya.

Kemenangan besar di Tahun ini

February 13th, 2006 by yuhu

Pertama kali kumenginjak dirumah yang sangat besar ini

Aku langsung terdiam membisu karena hatiku sangat bahagia

Aku pun bertekad bahwa ku harus mengetahui seisi rumah ini

Dengan susah payah aku menapaki tangga demi tangga

Demi mengambil bendera bertuliskan ST di puncak rumah

Banyaknya halangan dan rintangan tak membuatku surut

Akhirnya pada tangga ke 11 aku baru bisa meraihnya

Bendera ini akan kusimpan sampai akhir hayatku

Demi menggapai matahari di esok hari

Ku tak mau perjuangan ku akan berakhir sia – sia

Kekagumanku Terhadadap seorang penjual Kue

February 4th, 2006 by yuhu

Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali kekota. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan.

"Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera membuka daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya. "Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan," jawab saya ringkas. dia pun berlalu.

Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istrisepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.

"Abang sudah makan, mau ngga beli kue saya?" tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya.

"Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih," kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, "mau beli kue saya ngga Bang, Pak… Kakak atau Ibu." Molek budi bahasanya.

Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan restoran yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca jendela. Membalas senyumannya.

"Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue saya untuk adik-adik, Ibu atau Ayah abang," katanya sopan sekali sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya. "Ambil ini Dik! Abang sedekah… Tak usah Abang beli kue itu." Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki

lima

deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya. Saya terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak itu. "Kenapa Bang, mau beli kue kah?" tanyanya.

"Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

"Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!" katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

"Abang mau beli semua kah?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. "Rp 25.000,- saja Bang…." Selepas dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.

The Making Of Hero By SBY

December 4th, 2005 by yuhu

The Making of a Hero
Menjadi seorang Pahlawan
By : Susilo Bambang Yudhoyono is President of the Republic of Indonesia
Setiap masyarakat membutuhkan sosok seorang pahlawan. Dan setiap masyarakat memilikinya. Salah satu alasan mengapa kita tidak pernah melihat mereka dikarenakan kita tidak pernah merasa terbebani untuk melihatnya. Ada 2 macam bentuk pahlawan. Seorang pahlawan yang terlihat bersinar pada saat menghadapi keadaan yang penuh dengan kesengsaraan, dimana mereka menunjukan kemampuan mereka dengan sangat mengagumkan di dalam menyelesaikan situasi yang sulit. Dan pahlawan yang tinggal di antara kita, yang mengerjakan pekerjaannya secara biasa, dimana tidak diperhatikan oleh kita, tetapi membawa perubahan di dalam kehidupan orang lain. Pahlawan adalah orang yang tidak mementingkan diri sendiri dimana mereka melakukan suatu perbuatan yang luar biasa. Seorang pahlawan tidak harus selalu ditandai dari hasil tindakan mereka, tetapi dari apa yang mereka ingin perbuat untuk orang lain dan alasan dari mengapa mereka memilihnya. Sekalipun mereka gagal, ketetapan hati mereka tetap dirasakan oleh orang lain untuk diikuti. Keagungan bukan terletak pada kesuksesan, tetapi dalam pengorbanan itu sendiri. Pahlawan mengingatkan kita terhadap tujuan tertinggi diri sendiri dan masyarakat. Pada tahun 1950, pada saat Republik Indonesia masih dalam keadaan baru merdeka dan masih sangat kekurangan, kota dimana tempat kediaman saya di Pacitan yang terletak di Jawa Timur dimana tingkat kesejahteraannya masih sedikit. Sebuah kepercayaan yang kita miliki dapat memberikan sebagian kelegaan terhadap penderitaan akan kemiskinan, seperti halnya keluarga. Sebagian besar dari kami diberi kekuatan melalui pengharapan. Dan pengharapan seringkali datang dalam bentuk orang-orang yang berpahlawan dimana kita mengira mereka akan membawa kita kepada kehidupan yang lebih baik, seperti halnya Jendral Sudirman, salah satu bapak pendiri negara Indanesia, yang berjuang untuk kemerdekaan kita. Pahlawan melambangkan kebesaran, dan aspirasi. Dikarenakan kehidupan kita sangatlah kecil, maka pahlawan kita haruslah lebih besar daripada hidup. Ayah saya adalah seorang tentara di Indonesia setelah itu seorang angkatan bersenjata, dimana di dalam kesederhanaan kehidupan rumah tangga kami, kemiliteran merupakan pahlawan kami, lambang kehormatan, kewajiban dan kedudukan sebagai negara merdeka. Kembali daripada itu, tentara Indonesia merupakan pejuang-pejuang yang juga berperan sebagai pelayan di dalam masyarakat. Mereka juga merupakan orang-orang yang hebat dan pahlawan yang cerdik, mereka ikut berperan dalam membangun jalan dan jembatan, menggali sumur dan kanal. Sejak hari besar revolusi, saya telah bertemu dengan banyak orang-orang yang telah membentuk definisi kepahlawanan saya. Selama beberapa periode masa gelap yang terjadi akhir-akhir ini yang disebabkan oleh adanya bencana alam, baik di negara saya maupun di tempat lain. Saya diingatkan kembali oleh Catur. Letnan Kolonel di Meulaboh, salah satu kota di Aceh yang terkena pukulan kuat oleh bencana tsunami, Catur mempertaruhkan hidupnya berulang-ulang kali untuk menyelamatkan orang-orang yang perlu diselamatkan dalam bencana tersebut. Ia sangat merasa terpukul pada saat ia mengetahui bahwa istri dan anaknya sendiri telah hilang - pada saat itu mereka sedang berada di pinggir pantai mengumpulkan kerang pada waktu terjadi bencana tsunami. Tetapi setelah itu, ia tinggal di pos-nya, dan menghabiskan seluruh harinya untuk memandu penduduk Meulaboh ke tempat yang lebih aman. Istri dan anaknya tidak pernah ditemukan kembali.

Catur merupakan salah satu dari banyak pahlawan yang tidak dikenal pada waktu itu, dan pada waktu berikutnya. Pada saat saya bertemu dia di Meulaboh, dia tidak menceritakan kepada saya-sebagai seorang presiden-mengenai kehilangan yang ia alami karena ia tidak mau menggangu saya dengan pekerjaan saya. Saya mengetahuinya setelah itu melalui kawan sebayanya. Negara saya penuh dengan pahlawan yang tak dikenal. Butet Manurung, merupakan salah satu pahlawan TIME ‘ s tahun lalu, yang memiliki tujuan yang hampir mustahil; memberantas buta huruf di daerah suku bangsa yang tertinggal di daerah hutan di Sumatra. Dia tahu bahwa mereka tidak akan pernah datang kepadanya, maka dia pergi kepada mereka jauh di dalam hutan. Pada saat pertama kali, suku bangsa disana tidak pernah menaruh harapan terhadapnya. Tetapi ia memutuskan untuk memperoleh kepercayaan dari mereka, dan sekarang ia meneruskan untuk mengajar mereka membaca dan menulis, tinggal ditengah-tengah mereka seperti ia adalah bagian dari mereka. Butet melambangkan tenaga kerja pembantu yang tidak diperhitungkan dimana setiap hari ia berusaha untuk melawan kejanggalan dalam masalah kekurangan gizi, penyakit, kemiskinan. Saya pernah bertemu dengan guru-guru yang berjalan sejauh 10 mil setiap hari untuk mencapai sekolah mereka hanya untuk sebuah upah yang kecil sebesar $20 dolar setiap bulannya (dan tidak diragukan lagi banyak kesedihan yang datang dari murid-murid mereka). Masih, mereka terus melakukan perjalanannya setiap hari. Mereka merupakan pahlawa-pahlawan yang tak dikenal. Jadi, apa sebenarnya pahlawan itu? Dan siapa pahlawan itu? Apakah menurut pandangan umum dengan cara memberikan tanda jasa terhadap seseorang yang telah menang dalam medan pertempuran, atau seorang tentara tak dikenal yang secara diam-diam mematuhi perintah? Apakah peneliti yang mencari cara untuk menyembuhkan penyakit kanker, atau seorang dokter yang memberikan perawatan terhadap orang yang sakit? Apakah pahlawan adalah seseorang yang seharusnya menyelamatkan ribuan orang yang hidup, atau untuk memberikan penghiburan terhadap satu orang saja? Dan apa yang menggerakkan mereka, orang-orang yang kita sebut sebagai idola kita, penasehat kita, orang-orang tua kita, teman-teman kita? Apakah hal ini merupakan suatu kewajiban? Kebulatan tekad? Kekerasan hati? Semua faktor ini memberikan peran pada bagian mereka masing-masing. Tetapi saya percaya, ada hal lain yang lebih penting, elemen yang sesungguhnya, dan hal itu adalah sebuah cinta. Itu adalah cinta, cinta untuk pendidikan, cinta akan kemanusiaan, yang mengantarkan Butet Manurung berada di dalam hutan, dan membuat ia tetap berada di sana. Cinta terhadap muridnya yang membuat ia tetap bertahan untuk berjalan jauh guna mencapai sekolahnya setiap hari. Dan cinta untuk sebuah komunitas, untuk negaranya yang membawa Catur dalam keadaan penuh bahaya yang membawa pergi keluarganya. Seandainya Catur bukanlah seorang pahlawan; tidak diragukan lagi ia pasti akan lebih memilih untuk membawa keluarganya kembali. Tetapi keadaan menggerakkan sesuatu di dalam dia., sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Apa yang Manurung lakukan untuk jalan hidupnya dengan memberantas buta huruf – yang mungkin kelihatannya terlalu berlebihan untuk seseorang, tetapi tidak bagi Manurung. Saya sering kali berpikir pada saat saya bertemu dengan orang-orang berani seperti mereka yang merupakan pahlawan kita semua, apa yang akan saya perbuat apabila saya berada dalam situasi yang sama seperti mereka? Apakah saya akan dengan segera menolong keluarga dan Negara saya pada saat mereka membutuhkan saya? Bagaimana dengan Anda?
Seandainya ada beberapa orang pahlawan diantara kita. Kita hanya perlu melihat.

(From TIME Asia Magazine, issue dated October 10, 2005 Vol. 166, No. 15 , Monday, Oct. 03, 2005)

Keajaiban Dunia

October 6th, 2005 by yuhu

Sekelompok pelajar kelas geografi belajar mengenai “Tujuh Keajaiban Dunia”. Pada akhir pelajaran, guru meminta pelajar tersebut untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan “Tujuh Keajaiban Dunia” saat ini. Para pelajar bergumam, tertawa, dan berpikir. Mereka membayangkan semua yang hebat, yang mencengangkan.
Walaupun ada beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi:
1. Piramida Besar di Mesir
2. Taj Mahal
3. Grand Canyon
4. Panama Canal
5. Empire State Building
6. St. Peter’s Basilica
7. Tembok China
Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.
Gadis pendiam itu menjawab, “Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya.”
Sang guru berkata, “Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya.”
Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca,”Saya pikir Tujuh Keajaiban Dunia adalah:
1. Bisa bersyukur
2. Bisa merasakan
3. Bisa tertawa
4. Bisa mendengar
Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan…
5. Bisa berbagi
6. Bisa mencintai
7. Dan bisa dicintai
Ruang kelas tersebut sunyi seketika…
Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya “keajaiban” sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan lakukan untuk kita, menyebutnya sebagai “biasa”.
Semoga Anda hari ini diingatkan tentang segala hal yang betul-betul ajaib dalam kehidupan Anda. bersyukurlah untuk apa yg telah anda dapatkan sampai saat ini, karena itu sesungguhnya semua merupakan suatu “keajaiban”.